Toilette Training Gi Part 2

Setelah dua minggu melakukan toilette training, akhirnya Gi bisa lebih komunikatif kalau sudah mau pipis. Walaupun masih bilang ee padahal cuma pipis. 

Lucunya, meskipun sudah dipakaikan popok, Gi tetap gelisah kalau sudah kebelet mau pipis. Seperti kejadian beberapa hari lalu. Kami sudah siap-siap mau tidur, tapi ini bocah ga tidur-tidur juga. Bolak balik cari posisi nyaman. Tengkurep salah, tidur miring salah, nangis terus-terusan. Emak bapaknya sampai bingung harus gimana.


Saya sempat membetulkan popoknya, ya saya pikir mungkin nyelip gitu kan. Ternyata ga. Gi terus gelisah bolak balik, guling kanan guling kiri. Saya peluk gelisah. Saya gendong gelisah. Akhirnya saya betulkan lagi popoknya dan... cuuurrrr... mengalirlah itu air seni.

Mau ga mau ganti popok dan baju deh karena tepat saya menggeser popoknya dia pipis dan air pipisnya agak tumpah. Baju Gi dan baju saya jadi agak basah. 

Hal lain yang membuat saya bingung, setiap kali dia mau pup, dia gelisah dan panik. Bolak balik lari-lari, tapi diajak ke toilet ga mau. Pasti menolak sambil menangis. Sempet keki juga. Tapi baca artikel tentang toilet training ini jadi lebih sabar. Buat latihan pup di toilet kayaknya Gi masih belum terlalu siap.

Ga masalah sih, yang penting Gi udah ngerti dulu kalau buat pipis dan pup ya toilet. Cuma, rasa mules sepertinya masih asing dan terasa mengerikan buat dia. 

Tenang aja Gi, itu hanya ampas. Bukan jeroanmu yang keluar *pelukk

Masih panjang perjalanan emak bapaknya buat didik si bocah satu ini. Ya, minimal sekarang ga perlu beli popok banyak-banyak heheheh. *siulsiul

Oh, iya kalau mau tahu cara memulai toilet training bisa cek di artikel yang saya baca. Dari saya sendiri tipsnya  ga banyak cuma;

1. Pastikan si bocah memang sudah siap diajak toilet training. Tandanya dia sudah siap bagaimana? Dia bisa mengkomunikasikan kalau dia sudah tidak nyaman dengan popok yang basah atau kotor. Sebelum toilet training yang sekarang, beberapa bulan lalu saya pernah mencobanya, tapi stress sendiri karena Gi belum bisa mengkomunikasikan rasa kebeletnya. Nah, di bulan-bulan ini, Gi sudah memberi tahu setiap kali dia sudah pup atau popoknya penuh. Omanya juga cerita kalau dia pernah tidak dipakaikan popok dan dia tampak gelisah saat pipis di tempat. Dari situ saya langsung ambil kesimpulan, " Aha! Inilah saat yang tepat!" Puji Tuhan, benar-benar sudah tepat. Hehehe

2. Pastikan orang satu rumah siap menghadapi toilet training bocah. Di rumah kami hanya bertiga jadi tidak terlalu sulit untuk mempersiapkan diri. Papa Gi juga setuju sekali waktu saya sampaikan ingin melatih Gi toilet training. Tidak jarang juga pulang kerja atau saat libur Papa Gi bantu menemani Gi pipis. Malahan ga jarang si bocah lebih suka ditemani bapaknya daripada emaknya. Mungkin karena urusan lelaki. Perempuan ga boleh tahu..*ehhh 

Kalau di keluarga kita ada anggota keluarga lain, perlu sekali mengkomunikasikan niat kita melakukan toilet training. Supaya kalau anak mengompol tidak dimarahi atau mereka tidak salah paham melihat kita tidak memakaikan popok pada anak. Ya, pinter-pinternya kita menjelaskan.

Tips saya sih cuma dua itu. Oh, ada lagi. Di bawa fun  aja. Dibawa stress cuma bikin migrain. Kalau anak pipis ya mikirnya, "Itu cuma pipis." tinggal dibersihin. Kalau harus bersihin pupnya yang nempel di celana, ya mikirnya "Itu cuma kotoran manusia." ya bersihin aja. Heheheh.  Ah, kalau emak-emak mah udah biasa semua pastinya.

Pastinya, saat-saat toilet training ini, jadi saat yang menyenangkan juga. Bisa lihat perkembangan si bocah yang makin mandiri.

Hari ini saja saya dikejutkan. Gi membuka celananya sendiri dan pergi ke toilet sendiri dan pipis di sana. Hahahha. Cuma sekali sih, tapi saya sudah sangat senang melihatnya. Ternyata jerih payah yang diajarkan pada dia, dia tangkap dengan baik. *nangis terharu.

Tinggal soal pup nih. Harus semangat dan cari cara biar Gi pup dengan nyaman. Semangattt!!

0 Comments